Ka Bandung

Saat menulis di blog ini melalui WordPress app, saya sedang dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bandung dengan kereta api. Sebelumnya, saya tiba di Stasiun Gambir dari daerah Pejaten tak sampai 15 menit, dengan jarak sekitar 6, 40 kilometer. Cepat banget, kan?

Jadwal naik kereta api yang pertama pukul 05.00 WIB membuat saya kesulitan tidur. Takut bangun kesiangan dan ketinggalan kereta. Saya mah gitu. Ada undangan acara pada pukul 08.30 di daerah Ciumbuleuit, Bandung. Walaupun bakal terlambat, saya usahakan untuk datang.

Saya pesan jasa ojek daring GB sekitar pukul 03.55. Alhamdulillah cepat responsnya. Nama pengendaranya sebut saja Mr Jae biar agak keren. Saat muncul nama tersebut di layar hp dan foto dirinya bisa dibayangkan kalau dia sudah berumur, sekitar di atas 55 tahun. Saya pikir bapak ini bakal tidak gesit alias lamban.

Saya pasrah kalau tidak sampai Gambir sebelum kereta berangkat. Pengendara ojek itu saya hubungi. Wah dia bilang masih di dekat Stasiun Pasar Minggu. Jarak yang lumayan jauh dari tempat saya tinggal. Saya lihat di GPS, pergerakan Mr Jae itu cepat sekali.

Bapak itu pun datang menjemput pukul 04.05. Bau minyak angin mengganggu indera penciuman saya, bau yang tak saya sukai. Saya langsung mengatakan padanya kalau saya harus sudah di Gambir sebelum pukul 05.00. Dia mengiyakan.

Saat di motor, saya basa-basi mengajak dia mengobrol.

“Pak, tumben jam segini masih beredar?”

“Iya. Baru jalan sore. Belum pulang ke rumah karena hp saya sempat eror. Saya belum tidur. Selesai antar mba, saya pulang. Istirahat,” katanya.

“Saya juga pak. Takut bangun kesiangan, saya tidak tidur. Sama dong, saya biasa tidur habis Shubuh.”

Sampai di belokan arah Pasar Minggu yang sepi, Mr Jae langsung menambah kecepatan.

“Mba, pegangan ya,” pintanya.

Kata-kata Mr Jae selanjutnya tidak saya dengar karena tersapu angin. Kecepatan motor bebeknya semakin bertambah. Angin kencang membuat saya menutup helm lebih rapat. Saya dekap tas saya dengan erat.

Jalanan memang kosong. Saya lirik speedometer dari pinggir bahunya sambil menyipitkan mata, maklum mata saya minus dan makin rabun kalau malam-malam, sepertinya kecepatan motornya di atas rata-rata. Kecepatan hampir lebih dari 120 km per jam.

Selama ini saya tak pernah mengendarai motor di atas 80 km. Saya bisa kapok nebeng kalau teman saya bawa motornya serampangan. Kalau ada teman saya yang sedang tergila-gila Pokemon Go, kecepatan motor bisa di bawah 40 km. Saya disuruh bawa motor pelan-pelan. Lebih pelan lebih baik, katanya.

Motor semakin kencang seperti sedang naik motor dengan pembalap motoGP. Saya mau teriak, tapi tak bisa. Ini jalanan bukan arena balap.

“Pak, pelan, hati-hati,” Suara saya menjadi angin lalu. Bukannya memelankan motor, Mr Jae malah menambah kecepatan.

Saking cepatnya, motor yang saya tumpangi seperti sedikit melayang terbang. Namun, getaran karena tersibak angin sangat terasa. Motornya bukan matic apalagi RX king.

Jalanan yang biasa pada siang hari dipenuhi kemacetan dan kebisingan memang lengang. Namun, masih ada beberapa kendaraan, baik motor, mobil, maupun truk berlalu-lalang. Truk-truk besar pun dilewatinya. Duh…

Dari kejauhan saya melihat ada pengendara motor yang tak berhelm di depan. Wah, gelagat tidak baik. Mr Jae pasti mau adu balap nih. Benar saja, motor pemuda itu ia lewati. Ternyata pemuda itu tak mau kalah. Dia langsung menyusul motor Mr Jae. Sadar disalip pemuda tanggung, ia memicu kendaraan semakin kencang. Saya hanya bisa pegang jaket Mr Jae dengan erat. Ia berhasil mendahului setelah menerobos lampu kuning menuju merah. Pergerakan motor pemuda itu terhenti oleh lampu merah di perempatan yang mulai agak ramai.

Kali ini, lawan kami adalah kopaja. Dan kopaja entah nomor berapa itu mulai tancap gas lalu motor Mr Jae berhasil melaluinya ketika di belokan.

Ada lampu merah, ia terobos setelah lirik kanan-kiri, pertigaannya sepi. Saya hanya bisa bengong dan berharap agar selamat hingga tujuan. Saya sering membaca peristiwa kecelakaan yang terjadi pada dini hari. Isinya menyeramkan. Daripada membayangkan yang aneh-aneh, saya berdoa saja. Saat ada tikungan tajam, motor bergerak miring, saya ikut miring. Serong ke kiri, serong ke kanan lalala… saat menyalip kendaraan.

Akhirnya, saya sampai di Stasiun Gambir. Saya lihat jam tangan, pukul 04.18. Saya menertawai perjalanan yang saya alami, sangat menegangkan. Gila.

“Alhamdulillah sampai yang penting selamat,” kata Mr Jae.

Puji Tuhan, saya selamat. Saya masih diberi kesempatan untuk hidup.

Saya turun dari motor. Pegal juga karena menyangga tas yang lumayan berat. Kaki saya kesemutan sekaligus gemetaran saat menapak. Engsel dengkul seperti mau copot. Saya rogoh saku jaket, cuma ada recehan Rp 25 ribu.

Saya serahkan uang dan helm. “Terima kasih, pak.”

Dilihat dari raut wajahnya, Mr Jae tampak agak kecewa karena saya hanya menambahkan dua ribu rupiah dari tarif yang ditentukan. Mau kasih lebih dari itu, tapi keadaan saya masih kaget. Sulit berpikir.

Ini bukan kejadian yang pertama kali. Saya pernah pergi ke Gambir juga pada pagi hari dengan lain pengendara. Pengendara itu masih berusia muda sama seperti saya. Dia justru mengingatkan pentingnya keselamatan penumpang saat saya suruh bergerak cepat. Walaupun demikian, perjalanan saat itu ditempuh sekitar 15 menit dengan jalur yang berbeda. Naik motor pun lebih nyaman dan tanpa berasa menjadi raja jalanan.

“Bapak sih ngebut sekali,” kata saya kepada Mr Jae.

“Yang penting pegangan. Gak apa-apa mba.” Mr Jae tersenyum.

“Iya deh. Mari Pak.”

Saya bergegas meninggalkan Mr Jae. Gambir sudah ramai meskipun azan Shubuh belum terdengar. Selama perjalanan di kereta, saya tidak tidur. Melek terus… “Bandung, saya datang!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s