2 manusia dan 2 lukisan

Di sebuah pameran lukisan, karya para pelukis Korea Selatan.

Cukup lama dia memandangi lukisan yang terkesan abstrak itu dari dekat. Dia tetap tak mengerti maksud judul dan gambar dan warna dan semuanya. Seseorang menepuk bahunya dari belakang membuyarkan lamunan.

“Lo ngeliatin apaan sih? Lama banget,” kata temannya.

“Lukisan ini, aneh. Gw gak ngerti gambar ini. Serius deh.” Dia hanya menoleh sedikit ke arah temannya sambil terus menatap ke lukisan.

“Lha… itu kan lukisan kuda.”

“Kuda mana? Gak ada bentuknya.” Dia mulai maju selangkah untuk melihat lebih detail penampakan binatang yang disebut temannya.

“Itu kudaaa…,” ujar si penyabar.

“Gak ada kudaaaa…” Si kepala batu mulai sedikit kesal.

“Ada.” Si penyabar meninggalkan si keras kepala.

“Gak ada.”

“Lihat dari sini,” katanya dari arah belakang.

“Gak mau.” Dia tetap berdiri, mematung.

Duh mulai lagi nih nyebelinnya. Temannya yang taklagi sabar dengan si keras kepala lalu menyeretnya untuk mundur beberapa langkah. Menjauh dari lukisan.

Mereka berdua kini memandang dalam jarak yang sama.

“Itu kuda. Terlihat, kan?” Si penyabar menunjuk lukisan itu. Sekarang bentuk kuda itu terpampang jelas. 

“Ahhh… ya ada kudanya,” kata dia agak lega karena menemukan bentuk wajah kuda dalam gambaran besar. Cukup besar hingga pelukisnya hanya membuat sedikit potongan wajah mamalia yang tak utuh karena disesuaikan dengan ukuran kanvasnya.

Keduanya tersenyum.

“Yuk lihat lukisan yang lain,” ajak si keras kepala.

Mereka lalu mengelilingi ruang pameran dan menemukan lukisan yang menarik perhatian si keras kepala.

“Ini lukisan pink blossom judulnya. Bagus ya.”

“Mengapa ada beberapa buah ceri dan salju? Pink blossom kan bunga sakura, biasanya warna pink. Harusnya sesuai judulnya,” kata si penyabar.

“Warna,” jawab si keras kepala sekenanya.

“Warna merah dan putih plus hitam sebagai pembatas bentuk. Lalu?” kata si penyabar sambil menyilangkan kedua tangan.

“Pink blossom itu cherry blossom. Salju putih yang menempel di ceri merah itu warnanya kalau dicampur jadi warna pink. Tapi, bunganya belum mekar karena musim salju. Belum musim semi,” kata si keras kepala asal jawab.

Pikirannya justru dipenuhi niat untuk membeli lukisan tersebut kalau dia mampu. Pasti harganya tinggi kalau dilelang. Dijual gak ya? Berapa kira-kira harganya? Keren nih lukisan, bentuk sapuan kuasnya. Bentuk objeknya, nyata. Seperti sedang di Jepang pada musim dingin. Ditaruh di kamar atau ruang tamu sepertinya bagus. Sayangnya, lukisan tersebut tidak dijual dan hanya dipamerkan seperti keterangan yang tertera di lembar katalog.

“Oooh.” Si penyabar mengangguk-anggukkan kepala. Dia tak berpikir lagi. Begitu juga dengan si keras kepala.

Keduanya saling melirik dan menyunggingkan senyum.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s