Daftar bacaan Februari

 

Daftar buku yang akan saya baca pada bulan Februari ini.

1.       “The Architecture of Love” karya Ika Natasha

Buku ini direkomendasikan teman kantor untuk saya pinjam dan baca. Saya sempat membaca acak. Terlihat kekuatan si pengarang dalam menghidupkan karakter tokoh serta detail pendeskripsian latar yang cukup menonjol.

2.       “Siddhartha” karya Herman Hesse

Buku kedua yang saya baca setelah “Demian” yang versi bahasa Indonesia. Saya mendapatkan “Demian” versi bahasa Inggrisnya dari teman. Itu pun setelah saya diminta untuk menonton cuplikan beberapa BTS mv dan menjelaskan kaitannya dengan novel “Demian” kepadanya. Sebenarnya, dia akan mengerti jika sudah membaca “Demian” hingga tamat.

3.       “Pengantar Psikologi Umum” karya Sarlito W. Sarwono

Bacaan paling dasar untuk memahami psikologi. Saya membelinya karena nama pengarangnya. Beliau merupakan psikolog sosial sekaligus psikolog klinis. Buku ini dikemas dengan bahasa yang ringan agar ilmu tentang psikologi mudah dipahami. Jadi, saya akan membacanya.

Keinginan untuk membaca buku-buku tersebut harus bersaing dengan kegemaran membaca komik di webtoon. Makin susah membuat prioritas.

Advertisements

2 manusia dan 2 lukisan

Di sebuah pameran lukisan, karya para pelukis Korea Selatan.

Cukup lama dia memandangi lukisan yang terkesan abstrak itu dari dekat. Dia tetap tak mengerti maksud judul dan gambar dan warna dan semuanya. Seseorang menepuk bahunya dari belakang membuyarkan lamunan.

“Lo ngeliatin apaan sih? Lama banget,” kata temannya.

“Lukisan ini, aneh. Gw gak ngerti gambar ini. Serius deh.” Dia hanya menoleh sedikit ke arah temannya sambil terus menatap ke lukisan.

“Lha… itu kan lukisan kuda.”

“Kuda mana? Gak ada bentuknya.” Dia mulai maju selangkah untuk melihat lebih detail penampakan binatang yang disebut temannya.

“Itu kudaaa…,” ujar si penyabar.

“Gak ada kudaaaa…” Si kepala batu mulai sedikit kesal.

“Ada.” Si penyabar meninggalkan si keras kepala.

“Gak ada.”

“Lihat dari sini,” katanya dari arah belakang.

“Gak mau.” Dia tetap berdiri, mematung.

Duh mulai lagi nih nyebelinnya. Temannya yang taklagi sabar dengan si keras kepala lalu menyeretnya untuk mundur beberapa langkah. Menjauh dari lukisan.

Mereka berdua kini memandang dalam jarak yang sama.

“Itu kuda. Terlihat, kan?” Si penyabar menunjuk lukisan itu. Sekarang bentuk kuda itu terpampang jelas. 

“Ahhh… ya ada kudanya,” kata dia agak lega karena menemukan bentuk wajah kuda dalam gambaran besar. Cukup besar hingga pelukisnya hanya membuat sedikit potongan wajah mamalia yang tak utuh karena disesuaikan dengan ukuran kanvasnya.

Keduanya tersenyum.

“Yuk lihat lukisan yang lain,” ajak si keras kepala.

Mereka lalu mengelilingi ruang pameran dan menemukan lukisan yang menarik perhatian si keras kepala.

“Ini lukisan pink blossom judulnya. Bagus ya.”

“Mengapa ada beberapa buah ceri dan salju? Pink blossom kan bunga sakura, biasanya warna pink. Harusnya sesuai judulnya,” kata si penyabar.

“Warna,” jawab si keras kepala sekenanya.

“Warna merah dan putih plus hitam sebagai pembatas bentuk. Lalu?” kata si penyabar sambil menyilangkan kedua tangan.

“Pink blossom itu cherry blossom. Salju putih yang menempel di ceri merah itu warnanya kalau dicampur jadi warna pink. Tapi, bunganya belum mekar karena musim salju. Belum musim semi,” kata si keras kepala asal jawab.

Pikirannya justru dipenuhi niat untuk membeli lukisan tersebut kalau dia mampu. Pasti harganya tinggi kalau dilelang. Dijual gak ya? Berapa kira-kira harganya? Keren nih lukisan, bentuk sapuan kuasnya. Bentuk objeknya, nyata. Seperti sedang di Jepang pada musim dingin. Ditaruh di kamar atau ruang tamu sepertinya bagus. Sayangnya, lukisan tersebut tidak dijual dan hanya dipamerkan seperti keterangan yang tertera di lembar katalog.

“Oooh.” Si penyabar mengangguk-anggukkan kepala. Dia tak berpikir lagi. Begitu juga dengan si keras kepala.

Keduanya saling melirik dan menyunggingkan senyum.

 

Beli Buku di Mana?

Membeli buku itu sudah menjadi candu. Unsur pengarang atau penulis atau editor merupakan alasan pertama untuk membeli buku. Kemudian tema, jenis, niat, nafsu, bujet, dan harga. 

Paling banyak buku bertema psikologi, bahasa, sastra, budaya, sejarah, agama, sosial, filsafat, dan seni. Fiksi dan nonfiksi. Dikumpulkan lalu dibaca kemudian. Jika ada waktu luang, buku yang telah dipilih secara acak itu akan dibaca.

Kalau tidak ada bujet, bisa pergi ke perpustakaan umum milik pemerintah atau swasta. Selain sekadar cari referensi, bisa baca buku secara gratis, tapi biasanya baca di tempat. Di universitas pasti ada perpustakaan besar. Selain itu, di kedutaan besar asing juga ada perpustakaan yang terbuka untuk umum, bisa datang langsung tapi ada juga yang harus membuat janji terlebih dahulu. 

Kalau bukunya tidak ada di Indonesia, terkadang titip beli ke teman yang tinggal di luar negeri. Ada beberapa tempat yang sering dikunjungi untuk membeli buku bukan dalam bentuk pdf alias bentuk fisik.

  1. Pameran buku 
  2. Palasari, pusat buku-buku di Bandung, yang banyak bajakannya. Jadi, harus cermat dan teliti sebelum membeli.
  3. Toko buku berupa kios di dekat atau sekitar kampus mana saja.
  4. Gramedia
  5. Toga Mas, sering kasih banyak diskon.
  6. Blok M, kalau mau cari buku-buku bekas.
  7. Times, tempatnya buku-buku impor, bisa pesan buku terbitan luar. 
  8. Periplus
  9. Kinokuniya
  10. Supermarket, misal lottemart, pernah ada stan buku impor yang rata-rata bukunya dijual mulai harga Rp 30.000.
  11. Toko buku di penerbitnya, misal Mizan, Gagas, Tempo, Republika, Kompas, atau Gramedia. Banyak penerbit yang sudah ada situsnya. 
  12. Gunung agung masih ada gak sih? Dulu sering beli komik di sana.

Kalau membeli lewat daring (online), seringnya di bukabuku.com. Sudah tiga kali memesan di sana. Banyak buku yang didiskon. Pengemasan rapi dan pengiriman tepat waktu. Yang membuat takpuas jika stok buku yang diinginkan tidak ada padahal sudah lama menanti.

Ternyata tiga kali memesan buku di laman tersebut selalu setiap Kamis. Selain hari itu, sering gagal bertransaksi. Selanjutnya, kalau sudah tiba hari Kamis, langsung ‘siaga 1’ dengan tidak membuka atau melihat laman yang menjual buku-buku. Seperti halnya sebelum ke pameran buku, harus makan yang lahap agar lihat buku tidak kalap. 

Mau coba membeli buku di bukukita.com kalau ada buku bagus.

 

 

Donggap

Di Korea Selatan, umur itu penting. Umur menentukan bentuk hubungan sosial dalam masyarakat. Sistem senioritas dalam hierarki Korea masih cukup melekat dan memiliki kaitan erat dengan penggunaan bahasa.

Sama halnya Korea, di Indonesia, bahasa daerah, misal bahasa Sunda atau basa Sunda menerapkan penggolongan bahasa yang berbeda-beda untuk tingkatan masyarakat berdasarkan usia. Kalau mau ‘aman’ berbicara, terutama dengan orang yang lebih tua, disarankan untuk berbahasa Indonesia saja. Saya juga masih belajar basa Sunda karena untuk berkomunikasi dengan sanak saudara. Logat sudah Sunda, tapi kemampuan bahasanya masih semenjana.

Penggunaan bahasa formal atau nonformal di Korea dimulai dengan mengetahui umur (tahun lahir) lawan bicara. Hal tersebut untuk menentukan siapa yang lebih tua atau senior dalam pergaulan suatu kelompok. Jika dia paling senior siap-siap dipanggil eonni (panggilan kepada perempuan yang lebih tua oleh perempuan yang lebih muda), nuna (panggilan kepada perempuan lebih tua oleh laki-laki lebih muda), oppa (panggilan kepada laki-laki yang lebih tua dari perempuan yang lebih muda. Kata oppa bisa digunakan untuk memanggil kakak laki-laki atau orang terdekat seperti pacar), hyeong (panggilan kepada laki-laki yang lebih tua dari laki-laki yang lebih muda).

Senior sering kali mentraktir alias membayari makan para juniornya. Beberapa tahun lalu, saya dan teman-teman pernah ditraktir di restoran mahal oleh guru dari Korea yang seusia ibu saya. Dia bilang itu hal biasa di Korea. Karena sering bayar ala ‘Go Dutch’ dan merasa tidak enak hati, kami pun memberi hadiah kepada guru tersebut sebagai tanda ucapan terima kasih.

Donggap (동갑) bermakna ‘lahir di tahun yang sama’. Mempunyai usia yang sama berarti menjadi setara dalam bentuk hubungan sosial, seperti yang disebutkan Lim Jeong-yeo, penulis dalam majalah bulanan Korea (2016). Orang-orang yang termasuk donggap akan lebih mudah untuk bersosialisasi karena ada merasa ‘senasib’ dalam hidup, mudah berempati, cepat beradaptasi, lebih terbuka satu sama lain, dan tak ada dinding pemisah saat berkomunikasi.

Dia juga mengatakan, di antara donggap tidak harus menggunakan bahasa yang resmi dan sopan, seperti bahasa yang dituturkan kepada orang yang lebih tua atau bahasa yang kasual kepada orang yang lebih muda. Maka itu, mereka sangat nyaman bergaul karena seumur.

Lim Jeong-yeo mengungkapkan cara standar untuk bertanya jika ada dua orang yang lahir pada tahun yang sama atau donggap. “Are you two friends?”

Ikhlas dan Mistis

“Banyak jin ya di kantor ini… Apalagi, di sini!”

Ucapan spontan dari mulut sang pembicara menimbulkan kegaduhan hadirin. Ada yang tak percaya, setengah percaya, dan percaya.

Pagi itu, saya dan teman-teman kerja berkumpul di ruang rapat lantai bawah (basement). Ada materi tentang keikhlasan yang akan dibagikan kepada kami.

Sang pembicara merupakan ahli matematika. Beliau terkenal sebagai pemilik lembaga pendidikan yang memungut bayaran ‘seikhlasnya’. Di lembaga tersebut, para siswa bisa belajar apa pun, seperti matematika, bahasa Inggris, bahasa Arab, dan teknologi informasi. Bayarnya semampunya dan seikhlasnya.

“Jadi, mau cerita mistik atau ikhlas?” celetuk pelan seorang teman yang menganggap sang pembicara tidak fokus pada materi.

“Dua-duanya,” kata saya teringat makna kata tersebut. Kata mistik (kata benda, sedangkan mistis itu kata sifatnya) kalau menurut kamus punya dua makna.

  1. subsistem yang ada dalam hampir semua agama dan sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan; tasawuf; suluk.
  2.  hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia yang biasa.

Cara pembuka yang mencairkan suasana untuk meraih perhatian hadirin. Mereka jadi lupa kalau bapaknya datang terlambat hingga sejam. Meski begitu, kami tetap setia menunggu.

Bapak yang mengaku sudah mencapai tahap suprarasional ini melanjutkan pemaparan teorinya tentang keikhlasan dengan rumus matematika. Nah lhoo… Siapa yang suka matematika? Hayooo… acungkan tangan.

Kira-kira begini petikan teorinya. Dalam grafik kehidupan manusia, harus ada keseimbangan, baik garis vertikal maupun garis horizontal agar muncul garis tengah di antara keduanya yang tak disangka-sangka. Dia pun mengaitkan teorinya dengan ayat-ayat Alquran. Tidak lupa dia membagi kisah pengalamannya.

Saya mendengarkan dan mendapatkan pencerahan setelah bertanya kepada bapak itu. Tanpa disadari, ia telah memberi saya solusi saat membeberkan sebuah contoh. Lumayan juga usaha bangun pagi saya justru berfaedah.

Sebagai manusia yang memilih satu agama sebagai panduan dalam perjalanan hidup, saya masih harus banyak belajar. Bekal untuk perjalanan di dunia selanjutnya harus dipersiapkan. Saya pikir, teorinya masuk akal karena pada dasarnya, saya dan teman-teman yang saya ajak diskusi pernah mempraktikkannya.

Selesai acara, orang-orang justru lebih banyak membicarakan cerita hantu-hantuan. Bukan tentang ikhlas yang kemudian hanya menjadi guyonan. Berbaik sangka saja kalau mereka sudah mengerti materi keikhlasan yang disampaikan 🙂

Saya mau takmau ikut menguping pembicaraan mereka karena penasaran. Temanya hantu di kantor. Kalau tahu bentuk kantor saya, tampak luar saja sudah memberi kesan seram. Berdasarkan keterangan para saksi, orang yang biasanya sering diisengi penunggu kantor takwujud itu adalah orang baru.

Kisah terhangat ketika pada jam dua pagi, teman-teman kantor memesan ayam goreng dengan 11 bumbu rahasia via layanan pesan-antar. Dering telepon kantor beberapa kali membuyarkan konsentrasi teman-teman yang sedang bekerja, saat diangkat takada suara. Telepon iseng.

Hampir sejam, perut mereka sudah keroncongan karena petugas pengantar ayam belum juga tiba. Ternyata setelah ditelepon, dia malah menunggu di pos keamanan. Dia tidak berani naik ke lantai tiga karena baru sampai lantai dua, dia merasakan kengerian dan keangkeran yang tidak sanggup ia ungkapkan. Dia pun lari dan balik lagi ke pos. Saat ditemui teman-teman, dia mengaku ketakutan.

“Lihat wajahnya, aku jadi gak tega marahin. Kasihan pucat kayak ketakutan gitu. Keringetan terus dia bilang gak berani kalau harus mengantar ke lantai atas lagi,” kata teman saya saat kami mengobrol di parkiran.

Beberapa hari yang lalu, saya mengerjakan tugas sambil menunggu hujan reda. Di ruangan, masih banyak rekan yang bekerja karena ada tenggat proyek. Malam itu, hujan masih deras dan waktu menunjukkan hampir tengah malam. Saya hendak pulang dan ke luar ruangan. Di depan papan pengumuman, saya berhenti lalu berjalan menuruni tangga, tersadar ada wangi melati menyerbak. Hmm… harum, segar juga. Saya takmau berpikir macam-macam. Dua orang teman menyusul turun, saya tanyai. Mereka juga menghirup harumnya kembang yang tak biasa. Yang kemudian malah dikaitkan dengan kisah mistis lainnya di kantor. Saya tidak terlalu menyimak.

Keesokan harinya, saya mampir ke ruangan sekretaris.

“Mba, siapa sih yang ganti pengharum ruangan di dekat ruangan merokok?”tanya saya penasaran.

“Bagian umum. Kenapa? Wangi ya?”

“Iya, lain kali wangi vanila, lavender, atau cheese cake. Ini malah wangi melati, tapi cuma pas tengah malam wanginya,” kata saya.

Mba sekretaris malah tertawa. Saya ngeloyor pergi setelah mengambil segelas minuman kemasan. Saya jadi terpikir untuk menemui rekan bagian umum dan menyarankan pengharum melatinya ditaruh di toilet, tapi toilet cowok saja.

Sebenarnya, kisah mistis yang saya dengar dan alami juga ada. Percaya atau tidak, terserah.

Kalau saya? Percaya. Percaya kalau ada makhluk lain seperti malaikat dan jin. Selama jinnya tidak mengganggu, ya biarkan saja. Tapi, kalau ditemui izrail, keder juga hahaha… Ya sudah, mau tak mau harus ikhlas juga. Laailaahaillallah….

Ode to Hope

Oceanic dawn
at the center
of my life,
waves like grapes,
the sky’s solitude,
you fill me
and flood
the complete sea,
the undiminished sky,
tempo
and space,
sea foam’s white
battalions,
the orange earth,
the sun’s
fiery waist
in agony,
so many
gifts and talents,
birds soaring into their dreams,
and the sea, the sea,
suspended
aroma,
chorus of rich, resonant salt,
and meanwhile,
we men,
touch the water,
struggling,
and hoping,
we touch the sea,
hoping.

And the waves tell the firm coast:
‘Everything will be fulfilled.’

Puisi tersebut karangan Pablo Neruda. Penyair yang melahirkan banyak puisi romantis (menurut saya lho). Hasil pencarian puisi karya Neruda di lautan data mendamparkan saya di Poem Hunter.

Kalau sedikit merenungkan puisi di atas, saya jadi membayangkan kisah Hemingway tentang lelaki tua dan laut serta petikan lagu “nenek moyangku seorang pelaut….”

Untukmu yang suatu hari membaca puisi ini. Tak usah dihayati karena ia tak pernah lelah 😛

Going Solo

Judul ini saya ambil dari nama buku karangan Roald Dahl, pengarang buku anak-anak yang melegenda. Saya tidak akan menulis tentang Mr. Dahl, tapi judul karangannya yang berisi memoar itu menginspirasi saya untuk menulis sesuatu.

Saya berniat membuat tulisan perjalanan yang dituangkan ke dalam sebuah buku (Prosesnya baru dikerjakan sekitar 30 persen). Buku tulis biasa seperti catatan harian. Isinya, cerita selama berkunjung ke sebuah kota di Provinsi Jawa Tengah plus tambahan sisa bukti selama jalan-jalan, kecuali foto. Inginnya ada tambahan foto dari kamera polaroid agar makin keren. Namun, ya seadanya saja. Ada sih foto dari kamera ponsel, tapi harus dicetak dulu.

Saya tak akan menuliskan perjalanan saya selama di Solo di blog ini karena bakal panjang. Buku tersebut jika sudah jadi akan saya perlihatkan sekaligus pamerkan kepada sahabat saya.

Solo bisa berarti sendiri atau sendirian. Terkadang ada enaknya jika bepergian atau beravontur sendirian karena lebih bebas. Tetapi, banyak tidak enaknya, termasuk banyak ditanya.

“Beneran mau ke luar kota? Mau ke mana? Ke tempat siapa? Sama siapa? Sendirian? Serius?” tanya beberapa rekan kerja.

“Iya, solo, ke tempat Jokowi, sendiri!”kata saya mantap.

Saya bawa banyak ‘gembolan’, termasuk alat pembuat waffle, untuk liburan yang singkat kali ini. Hahaha…