Sastra dalam Video Klip BTS

I wanted only to try to live in accord with

the promptings which came from my true self.

Why was that so very difficult?

–Hesse

 

%eb%b0%a9%ed%83%84%ec%86%8c%eb%85%84%eb%8b%a8-bts-%ed%94%bc-%eb%95%80-%eb%88%88%eb%ac%bc-blood-sweat-tears-mv-youtube
Cuplikan Blood Sweat And Tears MV- BTS/Youtube

 

Beberapa hari yang lalu, saya iseng membaca soompi.com. Ada artikel mengenai kehebohan video klip yang baru diluncurkan oleh BTS atau Bangtan Boys. Belum lagi obrolan yang saya dengar tentang BTS di kalangan teman dan saudara yang menyukai musik dari Suga, V, Rap Monster, Jungkookkie, J-Hope, Jin, dan Jimin. (Tuh kan… jadi hapal).

Konon kabarnya, video klip ini terinspirasi dari “Demian” karya Herman Hesse. Sebelum peluncuran perdana video yang berjudul Blood Sweat and Tears ini, Big Hit selaku manajemen yang menaungi BTS memberikan beberapa bocoran berupa film pendek yang diunggah di Youtube.

Angka penonton video klip Blood Sweat and Tears terus melejit  sejak kemunculannya. Padahal, lagu tersebut baru saja dirilis pada 7 Oktober lalu. Selain menarik dari segi musik dan koreografi, BTS juga menyajikan konsep novel ke dalam video klip. Ada kata-kata dalam bahasa Inggris yang diucapkan anggota BTS, Rapmonster, yang berasal dari kutipan dalam novel “Demian”. Novel tersebut mengisahkan kehidupan seorang anak muda dalam mencari jati diri. Kemungkinan “Demian”  merefleksikan konsep album terbaru ‘WINGS’ yang mereka luncurkan.

Army, sebutan fans BTS, pun berlomba-lomba mencari “Demian”. Kemisteriusan video klip BTS ini membuat para Army di seluruh dunia membahasnya dalam banyak forum. Sejak dikaitkan dengan novel kelima karya sastrawan Jerman itu, banyak dari fans yang penasaran. Mereka merekonstruksi ulang karya sastra dan mempertanyakan alur kisah dalam video klip BTS, termasuk film pendeknya.

Membaca sastra dunia bagi anak muda di Korea Selatan mungkin tidak asing. Di sana, pelajaran bahasa Jerman dan bahasa Prancis menjadi pelajaran khusus saat  mereka di bangku sekolah. Kosakata dalam bahasa Prancis terkadang disisipkan dalam lagu-lagu K-Pop yang ngehits. BTS menarasikan karya Hesse dalam bahasa Inggris di video klipnya. Mengapa tidak menggunakan versi yang bahasa Jermannya, ya?

Secara konsep musik dan grup, BTS benar-benar dipersiapkan matang oleh Big Hit. Manajemen tersebut cukup fokus untuk memoles BTS. Dalam tempo singkat, grup tersebut mencapai rookie of the year. BTS  membuat perubahan, dengan menumbuhkan minat literasi lewat album terbaru mereka.

Perubahan positif ini tentu menambah pengetahuan baru dalam menikmati musik Kpop, yang tak melulu menyajikan tari dan lagu. Pengetahuan baru bagi kalangan muda untuk mau membaca karya sastra dunia, sekaligus menularkannya dalam bentuk hasil analisis karya. Mereka, para Army, menjadi kritikus muda dalam seni kontemporer.

Konsep sastra yang dituangkan dalam bentuk seni yang lain, terutama musik, cukup mengesankan. Jadi teringat konsep sastra yang disisipkan dalam sebuah film yang “anak muda banget” di Indonesia. Film Ada Apa Dengan Cinta?  yang muncul tahun 2002, membuat banyak anak muda yang kemudian menggali sastra Indonesia. Ada kehadiran Chairil Anwar dengan “Aku”-nya Sjuman Djaya, ada musikalisasi puisi, dan tentu saja jalan cerita yang segar karena tokoh utama menyukai sastra. Bahkan, kehadiran film tersebut memberi inspirasi para anak muda untuk masuk fakultas sastra di universitas.

Jadi, sudah ada yang baca “Demian”?

*catatan tambahan.

Saya sudah membaca “Demian” dalam tempo yang cepat (ini ukuran saya lho). Hanya dua hari selesai untuk bacaan yang dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. Ada jeda beberapa kali saat membacanya karena kesibukan. Padahal, saya pikir akan membacanya cukup lama. Ekspektasi itu meleset. Ternyata bahasa dan isinya membuat saya menikmati setiap lembarnya. Sebelumnya, saya pernah membaca novel terjemahan yang buruk dari penerbit terkenal. Buku itu kemudian saya hibahkan kepada orang lain karena merusak imajinasi. Nilai rasa sastranya menjadi berkurang.

 

Advertisements

September Ceria

Do you remember the
21st night of September?
Love was changing the minds of pretenders
While chasing the clouds away

Our hearts were ringing
In the key that our souls were singing.
As we danced in the night,
Remember how the stars stole the night away

Ba de ya – say do you remember
Ba de ya – dancing in September
Ba de ya – never was a cloudy day

Ba duda, ba duda, ba duda, badu
Ba duda, badu, ba duda, badu
Ba duda, badu, ba duda

My thoughts are with you
Holding hands with your heart to see you
Only blue talk and love,
Remember how we knew love was here to stay

Now December found the love we shared in September.
Only blue talk and love,
Remember the true love we share today

Ba de ya – say do you remember
Ba de ya – dancing in September
Ba de…

Ba de ya – say do you remember
Ba de ya – dancing in September
Ba de ya – never was a cloudy day

There was a
Ba de ya – say do you remember
Ba de ya – dancing in September
Ba de ya – golden dreams were shiny days

The bell was ringing, aha
Our souls were singing
Do you remember
Never a cloudy day

There was a
Ba de ya – say do you remember
Ba de ya – dancing in September
Ba de ya – never was a cloudy day

There was a
Ba de ya – say do you remember
Ba de ya – dancing in September
Ba de ya – golden dreams were shiny days

Ba de ya de ya de ya
Ba de ya de ya de ya
ba de ya de ya de ya
De ya

Ba de ya de ya de ya
Ba de ya de ya de ya
ba de ya de ya de ya

“September” yang dipopulerkan Earth Wind & Fire

 

Belajar Sendiri Belajar Mandiri

 

notebook-hero-workspace-minimal
pexels.com

 

Beberapa bulan lalu, saya mencari aktivitas yang ‘berbeda’ dengan pekerjaan saya sehari-hari. Sebenarnya, saya memiliki banyak waktu luang. Yang terpikir adalah ikut kursus gratis secara daring.

Saya pun mulai berburu kursus di internet yang setidaknya bisa menambah pengetahuan atau wawasan baru. Saya mencari kursus yang sesuai dengan hobi atau kesukaan. Salah satu hobi saya adalah menonton film Korea dan Jepang. Saya lalu mengikuti kursus dasar bahasa Korea di laman coursera.org. Kursus ini diselenggarakan oleh Yonsei University, universitas favorit di negeri asal Lee Minho.

Kursus Korean 1 ini ditujukan bagi siapa pun yang sudah mengenal abjad Korea, hangeul. Kursusnya memang untuk level dasar. Karena sudah bisa baca hangeul, saya ingin menambah kemampuan berkomunikasi sehari-hari dengan orang Korea. Siapa tahu saya bisa liburan lagi ke Korea dan langsung praktik ‘cas cis cus’ sedikit kalau mengobrol atau menawar barang di pasar.

Konten kursusnya menarik karena ada video tentang uraian pelajaran dari dosen, daftar kosakata, kuis, tata bahasa, contoh percakapan, dan setiap pekan ada ujiannya! Waktu pengerjaannya ‘suka-suka’ alias diatur sendiri asalkan selesai sebelum tenggat.

Kursus ini merupakan jenis kursus mandiri atau otodidak. Konsistensi dan kedisiplinan diri diuji. Saya harus bersyukur karena hidup pada zaman yang akses untuk belajar secara otodidak itu mudah dan tanpa biaya. Banyak sumbernya di internet. Namun, harus dipilih dan dipilah juga tempat berbagi ilmu yang akan dipelajari.

Berikut ini laman yang bisa diakses untuk menambah pengetahuan dari berbagai universitas terkenal juga langsung dari ahlinya.

  1. coursera.org
  2. future learn
  3. edx.org
  4. indonesiax
  5. stanford online

Rata-rata laman ini menawarkan kursus secara gratis kecuali kalau ingin memiliki sertifikatnya, ya harus bayar (rata-rata pakai kurs dolar AS). Selain itu, laman lainnya ada di http://www.openculture.com/freeonlinecourses.

Selamat belajar sendiri belajar mandiri.

Ka Bandung

Saat menulis di blog ini melalui WordPress app, saya sedang dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bandung dengan kereta api. Sebelumnya, saya tiba di Stasiun Gambir dari daerah Pejaten tak sampai 15 menit, dengan jarak sekitar 6, 40 kilometer. Cepat banget, kan?

Jadwal naik kereta api yang pertama pukul 05.00 WIB membuat saya kesulitan tidur. Takut bangun kesiangan dan ketinggalan kereta. Saya mah gitu. Ada undangan acara pada pukul 08.30 di daerah Ciumbuleuit, Bandung. Walaupun bakal terlambat, saya usahakan untuk datang.

Saya pesan jasa ojek daring GB sekitar pukul 03.55. Alhamdulillah cepat responsnya. Nama pengendaranya sebut saja Mr Jae biar agak keren. Saat muncul nama tersebut di layar hp dan foto dirinya bisa dibayangkan kalau dia sudah berumur, sekitar di atas 55 tahun. Saya pikir bapak ini bakal tidak gesit alias lamban.

Saya pasrah kalau tidak sampai Gambir sebelum kereta berangkat. Pengendara ojek itu saya hubungi. Wah dia bilang masih di dekat Stasiun Pasar Minggu. Jarak yang lumayan jauh dari tempat saya tinggal. Saya lihat di GPS, pergerakan Mr Jae itu cepat sekali.

Bapak itu pun datang menjemput pukul 04.05. Bau minyak angin mengganggu indera penciuman saya, bau yang tak saya sukai. Saya langsung mengatakan padanya kalau saya harus sudah di Gambir sebelum pukul 05.00. Dia mengiyakan.

Saat di motor, saya basa-basi mengajak dia mengobrol.

“Pak, tumben jam segini masih beredar?”

“Iya. Baru jalan sore. Belum pulang ke rumah karena hp saya sempat eror. Saya belum tidur. Selesai antar mba, saya pulang. Istirahat,” katanya.

“Saya juga pak. Takut bangun kesiangan, saya tidak tidur. Sama dong, saya biasa tidur habis Shubuh.”

Sampai di belokan arah Pasar Minggu yang sepi, Mr Jae langsung menambah kecepatan.

“Mba, pegangan ya,” pintanya.

Kata-kata Mr Jae selanjutnya tidak saya dengar karena tersapu angin. Kecepatan motor bebeknya semakin bertambah. Angin kencang membuat saya menutup helm lebih rapat. Saya dekap tas saya dengan erat.

Jalanan memang kosong. Saya lirik speedometer dari pinggir bahunya sambil menyipitkan mata, maklum mata saya minus dan makin rabun kalau malam-malam, sepertinya kecepatan motornya di atas rata-rata. Kecepatan hampir lebih dari 120 km per jam.

Selama ini saya tak pernah mengendarai motor di atas 80 km. Saya bisa kapok nebeng kalau teman saya bawa motornya serampangan. Kalau ada teman saya yang sedang tergila-gila Pokemon Go, kecepatan motor bisa di bawah 40 km. Saya disuruh bawa motor pelan-pelan. Lebih pelan lebih baik, katanya.

Motor semakin kencang seperti sedang naik motor dengan pembalap motoGP. Saya mau teriak, tapi tak bisa. Ini jalanan bukan arena balap.

“Pak, pelan, hati-hati,” Suara saya menjadi angin lalu. Bukannya memelankan motor, Mr Jae malah menambah kecepatan.

Saking cepatnya, motor yang saya tumpangi seperti sedikit melayang terbang. Namun, getaran karena tersibak angin sangat terasa. Motornya bukan matic apalagi RX king.

Jalanan yang biasa pada siang hari dipenuhi kemacetan dan kebisingan memang lengang. Namun, masih ada beberapa kendaraan, baik motor, mobil, maupun truk berlalu-lalang. Truk-truk besar pun dilewatinya. Duh…

Dari kejauhan saya melihat ada pengendara motor yang tak berhelm di depan. Wah, gelagat tidak baik. Mr Jae pasti mau adu balap nih. Benar saja, motor pemuda itu ia lewati. Ternyata pemuda itu tak mau kalah. Dia langsung menyusul motor Mr Jae. Sadar disalip pemuda tanggung, ia memicu kendaraan semakin kencang. Saya hanya bisa pegang jaket Mr Jae dengan erat. Ia berhasil mendahului setelah menerobos lampu kuning menuju merah. Pergerakan motor pemuda itu terhenti oleh lampu merah di perempatan yang mulai agak ramai.

Kali ini, lawan kami adalah kopaja. Dan kopaja entah nomor berapa itu mulai tancap gas lalu motor Mr Jae berhasil melaluinya ketika di belokan.

Ada lampu merah, ia terobos setelah lirik kanan-kiri, pertigaannya sepi. Saya hanya bisa bengong dan berharap agar selamat hingga tujuan. Saya sering membaca peristiwa kecelakaan yang terjadi pada dini hari. Isinya menyeramkan. Daripada membayangkan yang aneh-aneh, saya berdoa saja. Saat ada tikungan tajam, motor bergerak miring, saya ikut miring. Serong ke kiri, serong ke kanan lalala… saat menyalip kendaraan.

Akhirnya, saya sampai di Stasiun Gambir. Saya lihat jam tangan, pukul 04.18. Saya menertawai perjalanan yang saya alami, sangat menegangkan. Gila.

“Alhamdulillah sampai yang penting selamat,” kata Mr Jae.

Puji Tuhan, saya selamat. Saya masih diberi kesempatan untuk hidup.

Saya turun dari motor. Pegal juga karena menyangga tas yang lumayan berat. Kaki saya kesemutan sekaligus gemetaran saat menapak. Engsel dengkul seperti mau copot. Saya rogoh saku jaket, cuma ada recehan Rp 25 ribu.

Saya serahkan uang dan helm. “Terima kasih, pak.”

Dilihat dari raut wajahnya, Mr Jae tampak agak kecewa karena saya hanya menambahkan dua ribu rupiah dari tarif yang ditentukan. Mau kasih lebih dari itu, tapi keadaan saya masih kaget. Sulit berpikir.

Ini bukan kejadian yang pertama kali. Saya pernah pergi ke Gambir juga pada pagi hari dengan lain pengendara. Pengendara itu masih berusia muda sama seperti saya. Dia justru mengingatkan pentingnya keselamatan penumpang saat saya suruh bergerak cepat. Walaupun demikian, perjalanan saat itu ditempuh sekitar 15 menit dengan jalur yang berbeda. Naik motor pun lebih nyaman dan tanpa berasa menjadi raja jalanan.

“Bapak sih ngebut sekali,” kata saya kepada Mr Jae.

“Yang penting pegangan. Gak apa-apa mba.” Mr Jae tersenyum.

“Iya deh. Mari Pak.”

Saya bergegas meninggalkan Mr Jae. Gambir sudah ramai meskipun azan Shubuh belum terdengar. Selama perjalanan di kereta, saya tidak tidur. Melek terus… “Bandung, saya datang!”