Beli Buku di Mana?

Membeli buku itu sudah menjadi candu. Unsur pengarang atau penulis atau editor merupakan alasan pertama untuk membeli buku. Kemudian tema, jenis, niat, nafsu, bujet, dan harga. 

Paling banyak buku bertema psikologi, bahasa, sastra, budaya, sejarah, agama, sosial, filsafat, dan seni. Fiksi dan nonfiksi. Dikumpulkan lalu dibaca kemudian. Jika ada waktu luang, buku yang telah dipilih secara acak itu akan dibaca.

Kalau tidak ada bujet, bisa pergi ke perpustakaan umum milik pemerintah atau swasta. Selain sekadar cari referensi, bisa baca buku secara gratis, tapi biasanya baca di tempat. Di universitas pasti ada perpustakaan besar. Selain itu, di kedutaan besar asing juga ada perpustakaan yang terbuka untuk umum, bisa datang langsung tapi ada juga yang harus membuat janji terlebih dahulu. 

Kalau bukunya tidak ada di Indonesia, terkadang titip beli ke teman yang tinggal di luar negeri. Ada beberapa tempat yang sering dikunjungi untuk membeli buku bukan dalam bentuk pdf alias bentuk fisik.

  1. Pameran buku 
  2. Palasari, pusat buku-buku di Bandung, yang banyak bajakannya. Jadi, harus cermat dan teliti sebelum membeli.
  3. Toko buku berupa kios di dekat atau sekitar kampus mana saja.
  4. Gramedia
  5. Toga Mas, sering kasih banyak diskon.
  6. Blok M, kalau mau cari buku-buku bekas.
  7. Times, tempatnya buku-buku impor, bisa pesan buku terbitan luar. 
  8. Periplus
  9. Kinokuniya
  10. Supermarket, misal lottemart, pernah ada stan buku impor yang rata-rata bukunya dijual mulai harga Rp 30.000.
  11. Toko buku di penerbitnya, misal Mizan, Gagas, Tempo, Republika, Kompas, atau Gramedia. Banyak penerbit yang sudah ada situsnya. 
  12. Gunung agung masih ada gak sih? Dulu sering beli komik di sana.

Kalau membeli lewat daring (online), seringnya di bukabuku.com. Sudah tiga kali memesan di sana. Banyak buku yang didiskon. Pengemasan rapi dan pengiriman tepat waktu. Yang membuat takpuas jika stok buku yang diinginkan tidak ada padahal sudah lama menanti.

Ternyata tiga kali memesan buku di laman tersebut selalu setiap Kamis. Selain hari itu, sering gagal bertransaksi. Selanjutnya, kalau sudah tiba hari Kamis, langsung ‘siaga 1’ dengan tidak membuka atau melihat laman yang menjual buku-buku. Seperti halnya sebelum ke pameran buku, harus makan yang lahap agar lihat buku tidak kalap. 

Mau coba membeli buku di bukukita.com kalau ada buku bagus.

 

 

Advertisements

Sastra dalam Video Klip BTS

I wanted only to try to live in accord with

the promptings which came from my true self.

Why was that so very difficult?

–Hesse

 

%eb%b0%a9%ed%83%84%ec%86%8c%eb%85%84%eb%8b%a8-bts-%ed%94%bc-%eb%95%80-%eb%88%88%eb%ac%bc-blood-sweat-tears-mv-youtube
Cuplikan Blood Sweat And Tears MV- BTS/Youtube

 

Beberapa hari yang lalu, saya iseng membaca soompi.com. Ada artikel mengenai kehebohan video klip yang baru diluncurkan oleh BTS atau Bangtan Boys. Belum lagi obrolan yang saya dengar tentang BTS di kalangan teman dan saudara yang menyukai musik dari Suga, V, Rap Monster, Jungkookkie, J-Hope, Jin, dan Jimin. (Tuh kan… jadi hapal).

Konon kabarnya, video klip ini terinspirasi dari “Demian” karya Herman Hesse. Sebelum peluncuran perdana video yang berjudul Blood Sweat and Tears ini, Big Hit selaku manajemen yang menaungi BTS memberikan beberapa bocoran berupa film pendek yang diunggah di Youtube.

Angka penonton video klip Blood Sweat and Tears terus melejit  sejak kemunculannya. Padahal, lagu tersebut baru saja dirilis pada 7 Oktober lalu. Selain menarik dari segi musik dan koreografi, BTS juga menyajikan konsep novel ke dalam video klip. Ada kata-kata dalam bahasa Inggris yang diucapkan anggota BTS, Rapmonster, yang berasal dari kutipan dalam novel “Demian”. Novel tersebut mengisahkan kehidupan seorang anak muda dalam mencari jati diri. Kemungkinan “Demian”  merefleksikan konsep album terbaru ‘WINGS’ yang mereka luncurkan.

Army, sebutan fans BTS, pun berlomba-lomba mencari “Demian”. Kemisteriusan video klip BTS ini membuat para Army di seluruh dunia membahasnya dalam banyak forum. Sejak dikaitkan dengan novel kelima karya sastrawan Jerman itu, banyak dari fans yang penasaran. Mereka merekonstruksi ulang karya sastra dan mempertanyakan alur kisah dalam video klip BTS, termasuk film pendeknya.

Membaca sastra dunia bagi anak muda di Korea Selatan mungkin tidak asing. Di sana, pelajaran bahasa Jerman dan bahasa Prancis menjadi pelajaran khusus saat  mereka di bangku sekolah. Kosakata dalam bahasa Prancis terkadang disisipkan dalam lagu-lagu K-Pop yang ngehits. BTS menarasikan karya Hesse dalam bahasa Inggris di video klipnya. Mengapa tidak menggunakan versi yang bahasa Jermannya, ya?

Secara konsep musik dan grup, BTS benar-benar dipersiapkan matang oleh Big Hit. Manajemen tersebut cukup fokus untuk memoles BTS. Dalam tempo singkat, grup tersebut mencapai rookie of the year. BTS  membuat perubahan, dengan menumbuhkan minat literasi lewat album terbaru mereka.

Perubahan positif ini tentu menambah pengetahuan baru dalam menikmati musik Kpop, yang tak melulu menyajikan tari dan lagu. Pengetahuan baru bagi kalangan muda untuk mau membaca karya sastra dunia, sekaligus menularkannya dalam bentuk hasil analisis karya. Mereka, para Army, menjadi kritikus muda dalam seni kontemporer.

Konsep sastra yang dituangkan dalam bentuk seni yang lain, terutama musik, cukup mengesankan. Jadi teringat konsep sastra yang disisipkan dalam sebuah film yang “anak muda banget” di Indonesia. Film Ada Apa Dengan Cinta?  yang muncul tahun 2002, membuat banyak anak muda yang kemudian menggali sastra Indonesia. Ada kehadiran Chairil Anwar dengan “Aku”-nya Sjuman Djaya, ada musikalisasi puisi, dan tentu saja jalan cerita yang segar karena tokoh utama menyukai sastra. Bahkan, kehadiran film tersebut memberi inspirasi para anak muda untuk masuk fakultas sastra di universitas.

Jadi, sudah ada yang baca “Demian”?

*catatan tambahan.

Saya sudah membaca “Demian” dalam tempo yang cepat (ini ukuran saya lho). Hanya dua hari selesai untuk bacaan yang dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. Ada jeda beberapa kali saat membacanya karena kesibukan. Padahal, saya pikir akan membacanya cukup lama. Ekspektasi itu meleset. Ternyata bahasa dan isinya membuat saya menikmati setiap lembarnya. Sebelumnya, saya pernah membaca novel terjemahan yang buruk dari penerbit terkenal. Buku itu kemudian saya hibahkan kepada orang lain karena merusak imajinasi. Nilai rasa sastranya menjadi berkurang.